20 September 2011

The Last Blossom (2011)

Drama besutan sineas Korea gue akui selalu sukses membuat siapapun terenyuh. Apapun genrenya, entah horor, komedi atau action, selalu menyelipkan hal berbau air mata. Kadang dengan kadar yang pas. Kadang dengan kadar yang sedikit berlebihan. Hingga seringnya membuat air mata kita tanpa sadar menetes. Entah karena haru atau memang terlalu sentimentil.

The Last Blossom adalah salah satu dari drama tearjerker produksi negeri ginseng tersebut yang beredar awal tahun ini. Diangkat dari novel berjudul The Most Beautiful Goodbye buah pena Noh Hee-kyeong. Bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga kecil di pinggiran Korea yang memiliki masalah kompleks masing-masing.

Jeong Cheol (Kim Kap Soo) adalah kepala keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Karirnya menurun drastis semenjak salah mengoperasi pasien hingga menyebabkan kematian. Sang Istri bernama Kim In Hee (Bae Jong Ok), tipe wanita pekerja keras yang berusaha menjadi terbaik bagi siapa saja. Bagi adiknya yang hobi berjudi, bagi Ibu mertua (Kim Je Yeong) yang menderita alzeimer, serta bagi kedua anaknya: Yeon Soo (Park Ha-Seon), wanita karir yang terlibat cinta dengan suami orang dan Jeong Soo (Ryoo Deok Hwan) pemuda labil yang tengah menghamili pacarnya.

Masalah timbul ketika Kim In Hee didiagnosa mengidap penyakit tumor dan di prediksi tidak akan bertahan lama hidup di dunia. Semua kalang kabut. Terutama Jeong Cheol. Sebagai suami, dia sudah berusaha melakukan berbagai cara untuk kesembuhan sang istri. Namun takdir berkata lain. Sampai dokter pun menyerah. Kini, tergantung seberapa kuat In Hee bertahan. Dan bagaimana cara keluarga ini menghadapi segala persoalan dengan hati yang ikhlas untuk melepas kepergian Ibu yang mereka cintai.

Tema klise. Karakter yang meninggal karena terserang penyakit mematikan sudah sering jadi bahan utama sebuah film. Tapi ditangan Min Gyo Dong yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, The Last Blossom terlihat sangat mempesona. Ditambah dengan akting para ensemble cast yang begitu menjiwai serta sinematografi yang indah, membuat film ini nggak bisa dipandang sebelah mata.

Sayangnya, film yang pernah dibuat dalam bentuk serial televisi pada tahun 1996 ini terlihat agak kepayahan dalam menjabarkan masalah-masalah antar karakter dalam durasi 125 menit. Hingga terkadang banyak sempalan konflik yang berakhir anti klimaks hanya untuk kemudahan menuju ending yang sebenarnya dibilang tertebakpun, salah. Karena bukan itu tujuan utama film ini. Namun seberapa kuat ceritanya menyatu agar bisa memainkan emosi penonton.

The Last Blossom tidak sampai membuat mata gue nangis darah. Hanya sebatas berkaca-kaca saja. Entahlah, mungkin karena kekompleksan konflik sehingga membuat gue bingung ingin bersimpati pada siapa. Karena semua karakter ingin ditampilkan dalam porsi yang sama meski tidak sekuat sosok sang Ibu.

Ada beberapa scene memorable di film ini yang membuat kita speechless. Setidaknya mampu menggerakan emosi kita sebagai seorang manusia yang terpaksa menjadi beringas demi memikirkan perasaan orang lain.

Nilai 2.5/5

1 komentar:

  1. dari review lumayan tp kok di kasih rate hanya segitu?

    jd bingung

    BalasHapus

jangan lupa abis baca artikel, berbagi komentarnya ya ^^