21 Juni 2011

Sex and Zen: Extreme Ecstacy 3D [2011]

NB: Review sedikit nggak sopan, yang merasa cewek jangan baca!

Hongkong membuat sebuah gebrakan bagi perfilman dunia dengan merilis soft porn movie dalam bentuk 3D yang diedarkan dibioskop untuk konsumsi penonton dewasa berjudul Sex and Zen: Extreme Ecstacy. Sex and Zen? Sounds like familiar? Hell yeah, film arahan sutradara bernama Christoper Sun ini merupakan versi baru dari trilogi Sex and Zen yang rilis awal 90-an dan dibintangi oleh bom seks hongkong kala itu, Amy Yip.

Naskah olahan Stephen Shiu yang bertindak pula sebagai produser ini didasarkan novel berjudul "The Carnal Prayer Mat" buah karya Yu Li. Seting terjadi pada suatu masa di Dinasti Ming. Cerita bermula ketika Wan Yangseng (Hiro Hayama) menikah dengan seorang wanita cantik bernama Yuxiang (Leni Lan). Tapi pernikahan mereka yang tampak baik-baik saja diluar menyimpan luka ketika berhubungan badan karena Yangseng cepat sekali orgasme. Menderita dengan hal itu, Yangseng pun mencari kesenangan lain hingga bertemu dengan Pangeran Ning (Tony Ho) yang kemudian mengenalkannya pada sebuah tempat dimana banyak wanita-wanita seksi heboh bertelanjang bulat. Sejenak fantasi seks Yangseg tumbuh. Tapi itu tak lama, karena kemudian Yangseng di tertawakan akibat ukuran penisnya yang ‘mungil’.

Sebagai saran, jangan terlalu melihat Sex and Zen: Extreme Ecstacy sebagi sebuah film utuh. Yah, anggap aja drama semi biasa yang kemudian bisa kita lupakan atau mungkin kembali dilihat sebagai penyalur ‘hasrat’ entah dengan tangan atau istri masing-masing (jika punya istri kalo nggak punya ikut aja alternatif pertama). Kenapa? Ya, karena setelah melihat film secara keseluruhan ternyata nggak jauh beda sama film horror nyerempet Indonesia kekinian. Serius!!

Para departemen akting—termasuk bintang JAV seperti Saori Hara dan Reiko Suho—berakting dengan penghayatan yang begitu lebay. Adegan seksnya sangat tanggung bahkan mendekati annoying. Harusnya pembuat Extreme Ecstacy belajar bagaimana membuat film semi yang baik dan benar pada sineas jepang atau korea. Sebut saja film korea berjudul Natalie yang juga rilis dalam format 3D tapi dibuat lebih sinematis dan nge-art. Nggak asal kayak gini. Yang ada malah gue ketawa ngelihat adegan hot itu. Berasa lagi liat hentai live action. Totalitas beradegan hot para artisnya juga tanggung. Terkesan sekali kalo terlalu berhati-hati untuk menutupi aurat bawah. Jadinya scene yang tersaji dilayar bukan terlihat sange dan penuh nafsu tapi malah penuh ketakutan. Haha..

Parahnya lagi, terlalu banyak bloopers disana-sini seperti adegan Pangeran Ning memasukan penis ke vagina ceweknya. See, ukuran penis itu besar dan panjang, tapi bisa masuk dengan begitu gampang bahkan sampai menatap pantat. Jujur aja, gue sering liat bokep dengan actor cowok berpenis besar dan panjang. Tapi nggak ada yang sampai selebay itu. .

In the end, tonton film ini sebagai sebuah hiburan belaka. Jangan terlalu melihat betapa nggak pentingnya film ini rilis dalam bentuk 3D karena aksi 3D nya yang ditawarkan juga nangung. Selain terpesona dengan betapa cerah cerianya film ini, bagian artistik, properti dan adegan nudity didalamnya yang kadang disensor dengan blur ala film bokep jepang, kita bisa memetik pesan bahwa jangan pernah terlalu serakah dan suka mempermainkan wanita. Pesan yang klise, bahkan almost nggak penting, tapi ngena banget buat endingnya.

Nilai: 1/5

2 komentar:

  1. Film bapuk, nyesel gue nontonnya, dah buang2 waktu aja, bener2 tidak sesuai dengan poster film yg menurut gue cukup artistik.

    BalasHapus
  2. oh ini film yah,,ada cerita'a juga??
    hahha...

    BalasHapus

jangan lupa abis baca artikel, berbagi komentarnya ya ^^